Dalam menjalankan tugas, wartawan Target Hukum tidak boleh menerima bingkisan dalam bentuk apapun

Balada Pekerja Loteg Baciro

Jogjakarta,-www.targethukum.com

Warung Makan Legendaris yang Sewenang-wenang.

Kisah sedih pekerja yang diperlakukan secara sewenang-wenang oleh juragannya terdengar lagi di Indonesia ini, kisah yang merupakan tolok ukur keberhasilan dinas tenaga kerja Indonesia untuk memanusiakan manusia adalah merupakan pekerjaan rumah yang sangat-sangat menguras tenaga, pikiran dan usaha yang harus terus menerus dilakukan oleh dinas ketenagakerjaan Indonesia untuk mengangkat harkat dan derajat kaum pekerja yang selalu diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh majikannya.

Seperti kasus yang terjadi di Kota Yogyakarta ini, dimana seorang pekerja warung makan Loteg yang terkenal di yogyakarta dan merupakan salah satu warung legendaris karena sudah dibuka sejak tahun 1975 yang terletak di Jl. Argolubang Baciro, Lempuyangan Kota Yogyakarta telah mendapat perlakuan yang teramat sangat tidak mengenakan dari majikan tempatnya bekerja sehingga menyebabkan dirinya harus pergi dari tempat kerjanya itu. Seperti yang diceritakannya pada wartawan Target Hukum yang menemuinya di salah satu tepian kota Yogyakarta saat malam telah melingkupi kota, “Saya masuk kerja pada hari minggu 13 desember 2020, dan saya kerja di warung gado-gado dan loteg baciro, konon katanya warung makan ini termasuk warung makan legendaris dan punya nama besar di kota yogyakarta, saya kerja tanpa terasa saya mulai merasa kerasan dengan warung tersebut, karena warung tersebut memiliki teman kerja yang begitu baik semua.”

Saya mulai kerja dengan gaji 40.000 rupiah, itupun dibayarnya setiap hari dan apabila warung bisa tembus target diberi bonus 10.000 rupiah , dan juga saya mendapat jatah makan hari-hari, itupun makannya nasi dan telur. Kalaupun dikasih uang makan hanya dapat 25.000/hari, kalau dipikir dan dihitung untuk jatah 1 regu Cuma dapat 4000 rupiah/orang. Di warung Cuma ada 6 personel yaitu kasir 1 orang, 2 bagian penjual , 1 pengantar makanan, 1 bagian minum, dan satu bagian cuci-cuci.

Akhirnya saya menjalankan dengan rasa tulus karena saya hanya berpikir bagaimana supaya saya bisa mempunyai aktifitas sehari-hari, dan jujur saja saya bukan asli dari yogyakarta, melainkan saya berasal dari kota balikpapan kalimantan timur. Akhirnya saya bisa bertahan sampai 1 bulan karena saya hanya berpikir kalau saya dapat tim yang enak, itu yang membuat saya bisa bertahan. Jadi pada saat saya menjalani tes wawancara pertama kali, juragan saya berbicara ke saya kalau saya di ujicoba dulu selama 1 bulan dengan bayaran 40.000, setelah lewat 1 bulan akan mendapat kenaikan gaji menjadi 50.000 rupiah/hari. Tapi pada saat saya kerja dari pertama kali saya masuk hingga saya keluar saat ini, saya tidak mendapatkan kenaikan gaji.

Saat saya tinggal di warung saya merasa senang saja, tanpa ada menemukan hal-hal yang mencurigakan, tiba-tiba keanehan itupun muncul pada saat saya sudah tinggal di warung, seperti halnya saya diminta untuk bantu-bantu ngecat di rumah juragan yang terletak di daerah Condongcatur Yogyakarta, ya saya pun ikut bantu, saya bantu mulai dari jam 8 malam hingga tengah malam sekitar jam 1an kalau saya gak salah ingat, ya pada saat esok harinya saat menerima bayaran saya tidak mendapat bayaran tambahan, malah saya hanya mendapat makan saja pada saat usai bantu- bantu ngecat.Akhirnya kejadian-kejadian berikutnya pun muncul satu persatu, dengan adanya konflik antara kasir dan juragan mengenai penukaran uang, seperti ketika seorang tukang parkir menukar uang receh 2000an, padahal uang di warung tersebut sudah habis, ya kasirpun inisiatif untuk menukar uang tersebut, padahal kasir sudah laporan ke juragan kalau uang 2000an sdh habis, tapi malah si kasir yang ditegur alasannya kenapa gak menghubungi kerumah. Padahal kalau dipikir secara logika kenapa ya masalah sepele seperti ini kok dibuat ribet.

Bukan hanya itu saja, termasuk juga masalah orderan dari pelanggan untuk memesan loteg, ya loteg kami termasuk loteg dengan porsi banyak dan pedas yang luar biasa. ada seorang   pelanggan untuk memesan loteg 3 porsi dengan rasa pedas yang berbeda, seperti 1 porsi dengan cabe 2, 1 porsi dengan cabe 3, dan 1 porsi dengan cabe 5, menurut juragannya harga cabe mahal hingga mencapai harga 100ribu keatas perkilonya, padahal kasirnya sudah menjelaskan kepada pembeli, kalau untuk pemesanan diatas cabe 5 akan dikenakan tambahan biaya sekitar 1500/biji, hal tersebut tidak menjadi masalah oleh pembeli. Tapi pada saat juragan tersebut melihat orderan dari pembeli juragan saya memberitahukan kepada kasir “mbak bapat tadi pesan berapa porsi?”, “3 porsi dengan pedas yang berbeda” ujar kasir, danb juragan saya bertanya kembali ke saya “ emang cabe nya ada yang berapa 1 porsinya”, kasirpun menjawab kembali” ada yang cabe 2, cabe 3, dan cabe 5” ujar kasir tersebut. Dan juragan ngomong kembali “ Mbak kalau untuk porsi cabe 2 dan cabe 3 dikenakan chas ya?” kami pun dan kasirpun  yang mendengar hal tersebut merasa aneh, padahal menurut hitungan juragannya, kalau ada pemesanan cabe di atas 5 biji akan dikenakan chas, tapi ini sangat aneh dengan 3 porsi dengan rasa pedas yang beda kok dikenakan chas juga.

Kasus lain lagi ketika ada pembeli sudah menjadi langganan tetap kami sepasang suami istri, kalau sudah order selalu minta kupat diganti kentang,  kami pun mengiyakan hal tersebut, sebenarnya itu cuma masalah sepele, tapi menurut juragannya menjadi masalah besar. Juragan sayapun memberitahukan kalau kupat ganti kentang akan dikenakan chas juga, kan ini menjadi hal yang bodoh bagi saya sendiri, jadi pelanggan tersebut tidak menjadi makan dengan orderan kupat ganti kentang, tapi menjadi porsi biasa loteg kupat. Hingga hal tersebut dikenakan chas pembeli tersebut sampai sekarang tidak pernah muncul kembali, alasan juragannya kalau hal tersebut bisa membuat dirinya rugi.

Dan yang menjadi masalah adalah pada saat pembayaran THR setiap tahun yang selalu lalai dilakukan oleh juragan, semua pekerja disini tidak ada satupun yang menerima tunjangan THR sejak warung loteg ini berdiri. Hal inilah yang menyulut pertentangan di antara karyawan dan juragannya tersebut.

Mengenai hal itu, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Perlindungan Tenaga Kerja Disnakertrans DIY Ariyanto Wibowo mengatakan bahwa tindakan juragan pemilik warung makan tersebut menyalahi UU ketenagakerjaan Indonesia yang seharusnya.

Dijelaskan oleh Kepala Seksi Pengupahan dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, R. Darmawan, SH  Tunjangan Hari raya merupakan Hak Pekerja yang harus dibayarkan oleh perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku. Tunjangan Hari Raya Keagamaan yang selanjutnya disebut THR Keagamaan adalah pendapatan non upah yang wajib dibayarkan oleh Pengusaha kepada Pekerja menjelang Hari Raya Keagamaan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (1),(2),(3) PP No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan dan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan

Hari Raya Keagamaan terdiri  :Hari Raya Idul Fitri bagi Pekerja/Buruh yang beragama Islam,Hari Raya Natal bagi Pekerja/Buruh yang beragama Kristen Katholik dan Kristen Protestan,Hari Raya Nyepi bagi Pekerja/Buruh yang beragama Hindu,Hari Raya Waisak bagi Pekerja/Buruh yang beragama Budha, dan Hari Raya Imlek bagi Pekerja/Buruh yang beragama Konghucu.

Berdasarkan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan RI No. 2 Tahun 2019 tentang Pelaksanaan THR Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan Tahun 2019, dinyatakan bahwa pemberian THR Keagamaan bagi Pekerja di perusahaan merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan Pekerja dan keluarganya dalam merayakan Hari Raya Keagamaan. Agar tercipta hubungan kerja yang harmonis dan kondusif di tempat kerja, maka Peraturan Menteri Ketenagakerjaan tersebut wajib dilaksanakan secara konsisten oleh setiap pengusaha/perusahaan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : THR Kegamaan diberikan kepada Pekerja yang telah mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus atau lebih . Besarnya THR Keagamaan ditetapkan sebagai berikut :

a.Pekerja yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih, diberikan THR sebesar 1 (satu) bulan upah

b.Pekerja yang mempunyai masa kerja 1 (satu) bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 (dua belas) bulan,    diberikan secara proposional dengan perhitungan :
masa kerja    x   1 (satu) bulan upah

12
Bagi pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian lepas, upah 1 (satu) bulan dihitung sebagai berikut :

  1. Pekerja/buruh yang telah mempunyai masa kerja 12 (dua belas) bulan atau lebih, upah 1 (satu) bulan dihitung     berdasarkan rata-rata upah yang diterima dalam 12 (dua belas) bulan terakhir sebelum Hari Raya Keagamaan
  2. Pekerja/buruh yang mempunyai masa kerja kurang dari 12 (dua belas) bulan, upah 1 (satu) bulan dihitung     berdasarkan rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja

Bagi perusahaan yang telah mengatur pembayaran  THR Kegamaan dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan,Perjanjian Kerja Bersama atau berdasar kebiasaan yang telah dilakukan, nilainya lebih besar dari yang diaturdalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 6 Tahun 2016, maka nilai THR yang dibayarkan sesuaiPerjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, Perjanjian Kerja Bersama atau berdasar kebiasaan yang telah dilakukan.
Waktu Pembayaran

a.THR wajib dibayarkan oleh pengusaha  paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum Hari Raya Keagamaan.   b.THR dibayarkan sesuai dengan Hari Raya Keagamaan masing-masing Pekerja, kecuali ditentukan lain    sesuai kesepakatan Pengusaha dan Pekerja yang dituangkan dalam Perjanjian Kerja,    Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama.

Status Pekerja yang berhak mendapat THR  

a.Pekerja Tetap / PKWTT (THR dibayar oleh perusahaan dimana ia bekerja)

b.Pekerja Kontrak Personal / PKWT (THR dibayar oleh perusahaan dimana ia bekerja)

c.Pekerja Outsourcing (THR dibayar oleh PT. Penyedia Jasa yang mempekerjakannya atau sesuai Perjanjian Kerja)

d.Pekerja Borongan (THR dibayar oleh Perusahaan Pemborongan Pekerjaan yang mempekerjakannya)

e.Pekerja Harian Lepas (THR dibayar oleh Perusahaan dimana ia bekerja)

THR bagi Pekerja yang di PHK 

a. Pekerja Tetap/PKWTT yang di PHK terhitung sejak 30 hari sebelum Hari Raya Keagamaan, berhak mendapat THR    ( tgl. 6 Mei s/d 4 Juni 2019 )

b. Pekerja Kontrak/Outsourcing yang berakhir kontrak kerjanya sebelum Hari Raya Keagamaan tidak berhak mendapatkan THR

c. Pekerja yang mengundurkan diri tidak berhak mendapat THR

Sanksi Administratif

Bagi Pengusaha/Perusahaan yang tidak membayar THR akan terkena sanksi administrasi sesuaiPasal 2,3 dan 4 Permenaker Nomor 20 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pemberian Sanksi Administratif PP 78 Tahun 2015 berupa :

  1. Teguran tertulis
  2. Pembatasan kegiatan usaha meliputi :

– Pembatasan kapasitas produksi barang/jasa

– Penundaan izin usaha di salah satu atau beberapa lokasi usaha

Hal inilah yang mengusik pikiran kami sebagai jurnalis mengenai hal tersebut, agar kejadian yang menimpa salah seorang pekerja di warung makan lotegbaciro tersebut tidak menimpa pekerja yang lainnya di kota ini.

(Gusel/Mkl)

 

About Redaksi Target Hukum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Perwakilan Ombudsman Apresiasi Kejati Kalbar Ungkap Kasus Korupsi Rp1,8 Miliar

PONTIANAK, – |www.targethukum.com Perwakilan Ombudsman Provinsi Kalimantan Barat berikan apresiasi atas kinerja Kejaksaan Tinggi Kalimantan ...